dakwah
Photobucket
.....SELAMAT DATANG DI KAMPUS STKIP-PGRI KOTA LUBUKLINGGAU........ I'm Proud TO BE A Young MuslimMENUJU KAMPUS MADANI...

Selasa, 11 Januari 2011

The Journey of Syifa


-The Journey of Syifa

Oleh : Iis Apri Yuliyanti


MENTARI menanjak hingga sepertiga putrannya. Rona cerahnyan kian merekah dengan senyum terelok yang ia lukiskan pagi ini. Ai!, hari ini teramat indah rasanya. Alampun melantukan dzikirnya, menambah betapa sempurnanya keindahan yang Allah ciptakan hari ini. Tapi,entah mengapa kabut kian menyelimuti paras Syifa (gadis tomboy yang kerap disapa ifa) beberapa hari ini. Alam seolah tak mendukung suasana hatinya. Apakah gerangan yang mengganggu fikirannya?. Sebagai seorang sahabat Lulu kian cemas atas apa yang ia lihat pada karibnya itu. Ingin rasanya ia membantu, tapi, ia sama sekali tak mengetahui apa penyebabnya. Pun ketika ditanya, tak satu alasanpun terontar dari bibir Ifa.
Dalam kehidupan ini, pastiah ada sebab musababnya. Semua tak terlepas dari peran sebab dan akibat, dari kata “mengapa” dan juga “karena”. Ya, kesemua itu pastilah ada keterkaitan satu dengan yang lainnya, semuanya pastilah ada alasannya. Begitupun yang terjadi pada Ifa, pasti ada alasan mengapa ia berubah. Kini tak tampak lagi keceriaan dan tingkah konyol yang kerap ia lakukan. tak dilihat lagi oleh Lulu, gadis tomboy yang penuh semangat. Semua tak lagi bisa dilihat dari sikap Ifa. Semuanya begitu Lulu rindukan.
***
“EH!, Ifa  jadi CEWEK !!!” seru salah seorang siswa yang tiba-tiba berlari ke dalam kelas. Mendengar berita itu, seluruh siswa tampak tak percaya. Pun Lulu, “tidak mungkin ifa merubah penampilannya tanpa berdiskusi padaku terlebih dahulu, bukankah aku sahabat karibnya.”
Batinnya kala mendengar kabar itu. Seketika kelas tampak hening, saat seorang gadis-dengan anting berwarna pink dan bandana berwarna senada- masuk ke dalam ruang kelas. Sejenak mereka terdiam, memperhatikan sosok yang ada di depan mereka, dan mereka saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba, tawapun menggelegar, suasana menjadi gaduh, tampak beberapa siswa memegang perutnya, karena tak tahan dengan tawanya sendiri. Sedang Lulu hanya tersenyum, berusaha agar tak sedikit tawapun ia teriakkan. Ifa sadar akan respon dari teman-temannya, ia merasa tersuduti. “adakah yang salah, dengan apa yang saya lakukan” batinnya “bukankah hal yang wajar jika saya merubah penampilan, toh saya juga wanita.” Tambahnya.
“fa, kapan ganti kelamin?” gurau salah satu diantara teman-temannya. Mendengar kalimat itu, tampak suasana menjadi lebih gaduh, tawa semakin tak terkendali. Sedang Lulu berusaha untuk terus bertahan. Dengan wajah yang memerah, ia mencoba menutup mulut dengan kedua tangan putih miliknya, berharap tak satupun suara ia keluarkan. Ifa semakin tak tahan, sedih kian menggrogoti hatinya. Iapun berlari meninggalkan kelas dengan buliran-buliran bening mengalir dari kelopak matanya. Lulu hanya terdiam dan merasa sangat bersalah melihat sahabatnya.
Ifa terus saja berlari, dan ia tak bisa mengendalikan laju larinya. Hingga tepat di depan musholla, ia menabrak seseorang hingga terjatuh. Seketika lajunyapun  terhenti,ia sadar telah menyakiti orang lain.
“ aduh!, Fatimah, maaf ya “ ujarnya
“ sudah tidak apa-apa “ jawab siswi berjilbab--pindahan kota Bandung yang baru ia kenal-- yang baru saja ia tabrak.
Sejenak Fatimah tertegun dengan apa yang ia lihat dengan matanya. Pujianpun terlontar dari bibir mungil miliknya. Dan membuat Syifa tersipu malu.
“ kamu orang pertama yang memujiku “ ucap Ifa.
***
TIGA tahun  yang lalu, di tahun pertama saat sekolah menengah pertama, Lulu mengenal Ifa sebagai sesosok gadis anggun nan penuh pesona, dengan rambut panjang, indah tergerai, ia tampak bagai putri raja. Kecerdasannya menambah sempurnalah ia di mata teman-temannya. Namun, tahun pertama itupun berlalu. Saat semua kembali ke sekolah, usai libur semester. Tak satu orangpun menduga ifa akan berubah drastis. Ia berpenampilan layaknya laki-laki dengan sifat arogan yang baru ia miliki, ia kerap dihukum oleh guru sekolahnya hanya gara-gara hal sepele. Tak ada yang tahu apa gerangan yang membuat ifa berubah kian minus. Semua menjadi tanda tanya besar. Kebiasaan itupun berlanjut hingga ia melangkahkan kaki di sekolah menengah atas. Hingga kini ia berusaha kembali menjadi sosoknya yang dulu.
***
MALAM kian menua, hujan beserta gemuruh turun dengan saling berlomba, halilintar saling menyambar satu dan lainnya. Suasana begitu kian mengerikan malam ini. Di sebuah ruang keluarga, tepat di sudut ruangan, tampak seorang wanita tua, tengah gemetar. Ia tidak di hujani oleh air malam ini. Tidak sama sekali. Ia tampak bagai orang yang ketakutan, dengan wajah pucat pasi, ia berulang-ulang menupi telinganya dengan kedua tangannya yang mulai keriput. Sesekali ia berteriak. Sungguh, ia benar-benar ketakutan. Pelukan seseorang di sampingnya tak membuat ia lebih tenang. Ya, seseorang yang selalu mengharapkannya untuk menjadi lebih baik. Seorang anak yang selalu mengahapkan kesembuhan ibunya.
Ifa begitu sedih dengan kondisi ibunya. Sejenak ia terbayang dengan lingkaran masa lalunya, lingkaran kelam yang menjadikan ibunya depresi hingga saat ini. Malam ini terasa seakan mengulang ingatan mereka malam itu. Suatu malam terburuk bagi ia dan ibunya. Ayah ifa yang kerap pulang tak menentu, malam itu pulang bersama seorang wanita yang tengah hamil besar. Ibu Ifa, sama sekali tidak pernah menduga bahwa ternyata suaminya selingkuh. Dengan tanpa malu wanita yang datang bersama ayahnya, mengulurkan tangan, sedang sang ibu sudah teramat jijik, tak seujung jaripun ia sentuh uluran tangan itu, didekatinya wanita itu, dan tanpa di duga sang ibu mendorong wanita itu hingga terjatuh. Melihat apa yang dilakukan istrinya, sang suami-ayah Ifa-, menjadi sangat gusar, dipukulilah sang istri-yang selalu menantinya dengan sabar- dengan tanpa hati. Hal ini sering terjadi beberapa bulan terakhir. Malangnya, ia melakukan ini di depan mata Ifa dan kakak perempuannya. Merasa teramat tak tahan, melihat semua yang terjadi, aini-kakak Ifa- pergi meninggalkan tempat yang seperti neraka itu. Sedang Ifa hanya bisa diam memeluk boneka kecilnya.
Merasa puas dengan yang telah ia lakukan, laki-laki tak bermoral itupun pergi bersama simpanannya. Hingga saat ini, kabarnya tak lagi terdengar oleh Ifa. Dan Ifa pun, benar-benar tak peduli, bahkan ia berharap untuk tidak pernah lagi bertemu ataupun mengenal laki-laki itu, meski ia adalah ayah kandungnya.
Hingga pagi tiba, aini tak juga kembali. Ifa dan ibunya mulai khawatir. Seluruh teman-temannya sudah dihubungi. tapi, tak satupun yang mengetahui keberadaannya. Tepat pukul delapan pagi, sebuah telepon dari kepolisian mengejutkan mereka. Aini ditemukan tak bernyawa di semak-semak dekat danau, ia diduga menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan. Mendengar berita itu, sang ibu jatuh pingsan dan mengalami depresi. Ifapun sangat menyesali dengan apa yang terjadi dalam keluarganya. Ia mulai berfikir, seandainya ia laki-laki, pastilah ia bisa melindungi ibu dan kakaknya. Kini tinggalah ia bersama ibunya-yang tengah terganggu mentalnya-. Dan ia harus berusaha menghidupi keluarganya yang hanya ada ia dan ibunya, ia terus bekerja keras, meski bantuan kerap datang dari saudara ibunya. Mulai dari loper koran hingga penjaga toko telah ia jejali. Pagi-pagi sekali ia menjadi loper koran, dengan sepedanya ia mengelilingi komplek-komplek perumahan, yang menjadi langganannya. Pukul tujuh ia mulai beraktifitas layaknya anak-anak lain, sepulang sekolah ia sempatkan membantu tantenya menjaga toko kue di sudut pasar hingga pukul lima sore. Sedang ibunya dijaga oleh nenek yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Semuanya itu ia lakoni tanpa keluh dan kesah.
Semenjak saat itu, teman-teman Ifa tak lagi mengenal sesosok anggun yang teramat sempurna bagi teman-temannya. Kini ia dikenal sebagai Ifa tomboy yang suka telat datang ke sekolah, dan yang suka tidur saat jam pelajaran. Ya, kepedihan itu cukuplah baginya. Semua usaha kerasnya, semata-mata ingin menunjukkan bahwa ia dan ibunya mampu bertahan tanpa sang ayah.
***
SAAT tahun pertama dibulan pertama ia masuk sekolah menengah atas, Ifa mulai belajar membuka hatinya. Semua itu terjadi saat ia mengenal kakak kelasnya yang juga menjadi ketua rohis di sekolah. Apapun akan ia lakukan demi kakak kelas yang menjadi idolanya saat ini. Meski ia tahu, semua yang ia lakukan sama sekali tak dapat membuka hati sang idola.
***
DIHARI pertama tahun keduanya di sekolah, Ifa semakin tak sanggup menahan gejolak hatinya. Ia merasa sangat terbebani dengan rasa yang ia miliki. Bayang sang idola kerap muncul dalam setiap matanya memandang. Hingga akhir ketakmampuannya menahan hati, ia berusaha memberanikan diri untuk berbuat nekad. Ia bermaksud mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sebagai seorang sahabat, Lulu telah berusaha melarang niat gila karibnya itu. Tapi, tetap saja Ifa keras kepala. Dengan alasan, ia takut  menyesal jika tidak mengungkapkan rasa itu, dan dia siap menerima apapun resiko yang akan terjadi. Akhirnya dijalani juga rencana gilanya. Seperti yang ia duga, ia ditolak mentah. Bahkan hal terburuk, ia harus mendengar ungkapan yang seharusnya tak pantas untuk diucapkan. Masih terngiang-ngiang saja percakapan itu di telinganya.
“Syifa, kamu memiliki keberanian yang luar biasa. Tapi sayang, kamu tahukan  untuk saat ini saya tidak mungkin membuka hati saya. Pun jika itu terjadi, pastilah bukan untuk kamu, yang tidak jelas seperti ini” ujar sang idola.
“maaf, maksud kakak?” tanya Ifa bingung.
“ya, tidak jelas laki-laki atau perempuan” jawabnya tanpa memikirkan perasaan ifa.
Sungguh Ifa benar-benar kaget dengan ucapan yang baru saja ia dengar. Iapun berusaha menutupi kesedihannya. Diberanikan dirinya untuk bertanya prihal siapa yang pantas menjadi bidadari hati untuk idolanya. Sang idolapun mengarahkan jarinya tepat pada seorang gadis berjilbab. Siswi baru, pindahan kota bandung.
***
BARU beberapa minggu yang lalu, diseantero sekolah, dikejutkan dengan perubahan Ifa bersama sosok feminimnya. Dan kini ia kembali berhasil membuat kejutan heboh untuk teman-temannya. Ia memakai JILBAB. Seisi sekolah geger dibuatnya. Terutama fatir, sang idola yang dulu sempat hadir dalam relung hatinya. Kini Ifa benar-benar berubah. Dengan kerudung panjang membalutnya, ia tampil penuh pesona. Kepribadiannya berlahan-lahan berubah. Lulu yang menyadari perubahan positif karibnya, ikut senang, meski ia tahu waktu-waktunya untuk berkumpul bersama Ifa menjadi lebih sedikit. Ya,  itu disebabkan karena kini Ifa memiliki jadwal hallaqoh (pengajian) sebagai agenda rutinnya.
Mulai hari itu, Ifa mulai belajar memahami dien yang dulu sempat terlupakan, belajar mencari hidup yang hakiki, memahami makna hidup dan cinta sejati, serta berusaha mencari ketenangan hati yang telah lama tak singgah dalam jiwanya, dan prestasipun kembali ia tertorehkan. Sekarang Lulu benar-benar merasa menemukan kembali sosok Ifa yang dulu sempat hilang.
***
DISUATU siang yang terik, Ifa baru saja pulang dari hallaqohnya. Semua teman-temannya sudah pulang lebih dulu. Tinggallah ia seorang diri, ia berjalan hingga halte yang berada tak jauh dari sekolahnya. Saat di halte, sejenak ia tertegun, karena ia mendapati kak Fatir-masih menggunakan seragam lengkap- tengah duduk di kursi halte. Hatinya kembali berdegup tak menentu, saat melihat idolanya. “kenapa belum pulang juga, bukankah jam pulang sekolah sudah dari satu jam yang lalu” batinnya. Ifapun duduk jauh dari sang idola. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya, dengan menyibukkan diri untuk membaca buku yang ia genggam.
“Syifa” sapa kak Fatir padanya.
Ifapun kaget, ditenggadahkannya kepalanya. “ya kak” jawabnya seraya menahan getar hatinya.
“ada yang ingin kakak sampaikan pada mu.”
“ya”
“dari sejam yang lalu saya menunggu mu di halte ini” ujar kak Fatir
Tapi, Ifa hanya diam, ia berpura-pura tidak peduli, dengan tidak menanyakan alasannya.
“Fa, kakak minta maaf atas apa yang pernah kakak ucapkan.” Pintanya “jujur, kakak benar-benar merasa bersalah.”
“ tidak usah terlalu difikirkan. Saya juga sudah lupa dengan apa yang kakak ucapkan” jawab Ifa.
“satu hal lagi yang ingin kakak sampaikan” ujarnya “ehm, maukah kamu jadi  bidadari yang mengisi relung hatiku ?”
GLARR…. Ifa kaget luar biasa, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sejenak hatinya berbunga, dan ia bagaikan terbang ke awan. “oh Tuhan, se-indah inikah bila cinta terbalas” batinnya. Tiba-tiba iapun tersadar dengan semua khayalnya. Segera ia ber istighfar, berusaha menahan hati yang semakin tak terkendali.
“kak” gumam Ifa “ saya hargai semua kejujuran kakak. Tapi, cukuplah hadirkan bidadari yang halal itu di hati kakak. Teramat tak layak rasanya, jika diri menjadi bidadari itu, sedang saya tak halal untuk kakak. Tunggulah hingga waktunya tiba. Yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan bidadari suci untuk pelabuhan hati kakak. Yang bisa menentramkan batin kakak, dan menyejukkan dalam setiap mata memandang” jelas Ifa.
“ tapi, bukankah kamu memiliki rasa yang sama ?” tanya kak Fatir
“ya. Tapi, perasaan itu telah lama saya kubur. Saya percaya akan takdir saya. Maka saya tidak khawatir dengannya.” Jawab Ifa dengan lebih tenang “saya sadar, bahwa apa yang saya rasakan selama ini adalah salah. dan untuk memperbaikinya, saya harus bisa menghilangkan rasa ini dengan mencari cinta yang jauh lebih indah yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berusaha mengejar kembali cintanya Allah” jelas Ifa lagi.
Ifapun pergi meninggalkan kak Fatir di halte. Dengan salam Segera ia menaiki bis yang melintas didepannya. Ia sama sekali tak berani menatap wajah sang idola. Dan tidak mengetahui persis reaksi yang diberikan.
***
DIMINGGU pagi yang lalu, dengan hujan tipis menyelimuti.
“fa, kalau mbak boleh beri masukan, coba deh untuk perbarui niatmu” ujar mbak Riri, sepupu Ifa “ya…. Rencanamu untuk  berjilbab memang baik. Tapi, niat ingin berubah karena orang lain itu tidak baik. Ingatlah, semua yang kita lakukan itu tergantung niatnya. Jika niatnya baik, insya’allah semua akan berjalan dengan baik.” Jelasnya.
Ifapun terdiam mendengar penjelasan sepupunya. Ia  mulai menyadari segala kesalahannya.
“fa, mbak mengerti dengan yang terjadi padamu. Cinta itu adalah sebuah fitrah. Hal yang wajar jika seseorang memilikinya. Justru aneh jika seseorang tidak memiliki cinta. Jadi, bersyukur saja, jika kamu memilikinya. Fa, cinta itu ada tingkatannya. Cinta tertinggi adalah cintanya Allah. Mencintai Allah jauh lebih indah dari apapun. Yakinlah, kamu tidak akan pernah merasakan sedih ataupun kecewa, jika kamu mencintai Allah.” Sambung mbak Riri.
“ya mbak.”
“nah!!!, jadi, sekarang mbak berharap, niat kamu berubah bukan karena orang lain. Mbak percaya kamu pasti bisa.” Seru mbak Riri
***
HUJAN baru saja reda, dan pelangi membentang langit tepat di atas rumah Ifa. Di dalam kamarnya, Ifa duduk menghadap cermin miliknya. Dipandangilah bayang wajah putihnya, sejenak ia tersenyum. Entah!, hal apa yang ia fikirkan. ‘aku pasti bisa.’ Gumamnya lirih. Dengan basmallah, akhirnya ia jalankan pula niat hatinya. Mulai hari ini ia mengenakan jilbab yang telah Allah wajibkan bagi  kaum hawa. Ada ketenangan yang ia rasakan dalam dadanya. Sesaat setelah itu, ia mengambil foto sang idola. Dipandangnya cukup lama. “maaf kak” gumamnya “memang, selama ini semua yang saya lakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian dari kakak. Tapi, saya sadar semua ini salah. Tak seharusnya saya biarkan  hati ini berlari liar. Semoga saya masih bisa dimaafkan. Kak, mulai saat ini saya akan belajar membawa hati saya. Meski teramat berat. Tapi saya percaya, Allah tidak akan membiarkan saya berjuang sendiri. Saya akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Dan saya juga akan berusaha untuk mendapatkan cinta tertinggi itu. mendapatkan cinta sejati dari Allah. Terimakasih atas semuanya. Bagaimanapun semua ini juga karena kakak. Dengan mengenal kakak saya bisa seperti sekarang. Terimakasih banyak. Selamat tinggal idola ku.”[]
 


BIODATA
Biodata
Nama                                       : Iis Apri Yuliyanti
Sekolah                                    : STKIP-PGRI LUBUKLINGGAU
Jurusan/Prodi/semester : Mipa/Matematika/I





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Coment FB

Yang Populer