dakwah
Photobucket
.....SELAMAT DATANG DI KAMPUS STKIP-PGRI KOTA LUBUKLINGGAU........ I'm Proud TO BE A Young MuslimMENUJU KAMPUS MADANI...

Sabtu, 25 Desember 2010

KERUDUNG

KERUDUNG
Oleh: Beben Ario Boy Sandi

    Tiga tahun lamanya telah kulewati masa SMA. Kini aku menyendiri merenungkan nasib masa depanku nanti.
”Ehm, mau kemana aku? Kuliah atau kerja? Atau menikah? Akh, bodoh, nanti aja! gumamku.
    Waktu terus bergulir, pagi meranjak petang, begitu pula malam menjemput petang. Tak terasa suara merdu dari ujung desaku menyerukan insan beranjak mengangkat tangan dan bergema takbir. Aku segera shalat dan tak lupa berharap menjadi sesuatu yang kuharapkan. Aku segera menghadap ke cermin dan seakan-akan berbicara padanya.
”Aku cantik juga ya...”.
    Senyumku memenuhi seluruh lapisan yang bening dan berkaca itu.
”Aku benar-benar cantik...!. Ehm, sungguh,,aku tidak bohong!! Aku cantik,lho?!
     Suasana di kamarku pecah ketika ibu memanggilku.”Ris, ayo makan!” Aku lupa dengan keadaanku yang masih mengenakan seragam sholat. ”Ya ampun!!!” Aku segera makan bersama ibu.
    Keadaanku berubah semenjak ditinggal ayahku, aku harus membanting tulang. Mengurus semua sawah, kebun, dan ternak. Tubuhku dekil dan hitam. Aku  kadang malu bila  bersama teman-temanku. Apalagi kedua kakakku jarang pulang dari kota.
    Suatu hari ketika pagi menyapa, aku pergi belanja. Tak biasanya, aku menyanyi sambil menayungi sepeda tua ayahku.
Pilihlah aku jadi pacarmu, yang pasti setia menemaniku.
Jangan kau  salah pilih yang lain....yang lain belum tentu setia.
Jadi pilihlah aku..!!!

Berjuta mata melirik diriku sepanjang jalan. Aku cuek  begitu saja. Dan aku terus bernyanyi. Mataku masih terbawa ayunan lagu. Dan aku segera turun dari sepeda.”Huh, ramai sekali hari ini.” Aku terus melangkah dan menjinjing tas kosong menjelajahi pasar. Di persimpangan pasar aku bertemu Icha, teman SMA ku. Penampilannya berubah drastis. Ia semakin anggun dengan kerudung putihnya. Tapi, aku masih mengenalnya. Lalu, aku menghampirinya. Aku sapa dirinya.
”Cha, apa kabar?  Ini aku, Riska? Temanmu kelas satu SMA kemarin. Kamu ingat tidak?”.
    Aku sangat berharap Ica masih mengenalku dan menganggap diriku sebagai temannya. Karena lama sekali tak berjumpa dengannya. Namun sayang,   Ica menghempaskan tanganku begitu saja. Ia menjawab,”Kamu siapa?”. Aku tetap meyakinkan dia sebagai temanku semasa SMA. Aku bercerita panjang supaya dia tetap mengenalku lagi.
”Ah, aku tetap tidak mengenalmu. Sudah, aku mau buru-buru. Maaf ya!!!”.
    Icha segera pergi. Mataku tetap menyoroti dia pergi. Terasa lemah tulangku, berdesir cepat darah berlari, kaku semua tubuhku. Aku terdiam. Tubuhku mengeras.Aku baru sadar ketika ada seseorang memegang bahuku. Suasana pun berubah. “Hey! Kamu kenapa?” Aku tersentak kaget. Lalu, seseorang itu bertanya kembali pada diriku,
”Kamu sakit?”. Aku menjawab,”Aku tidak apa-apa?”. Seseorang itu segera pergi menelusuri pasar.

    Sesampai dirumah, aku masih terbayang seseorang itu. Tutur katanya yang lembut dan cantik walau penampilannya agak terlalu seksi. Aku belum sempat berkenalan sama dia. Hari itu benar-benar buat aku bingung. Apalagi dengan tingkah laku si Icha, temanku. Padahal, ia dulu sangat baik dan ramah.
    Jam dinding dirumahku menunjukkan pukul 4 sore, saatnya aku beranjak ke sawah untuk menghalau burung yang memerangi padiku yang menguning. Sore itu pula, terlihat Bagus yang sedang panen kacang dikebunnya. Aku menghampirinya. Bagus adalah teman masa kecilku. Kami selalu bermain dan bercanda berdua. Aku bercerita tentang kejadian yang aku alami tadi. Bagus pun mengerti tentang hal itu. Menurutku, Bagus itu lebih memahami tentang agama karena dia kuliah di bidang agama. Selain itu, aku mengenalnya dari kecil. Dia anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. 
”Oh,...itu semua tergantung pada diri pribadi masing-masing”.
Aku mulai paham pada kejadian saat itu. Aku segera ke sawahku. Memang kebun Bagus bersebelahan dengan sawahku.
”Hus,,huah......hao....ho....aku mengusir burung-burung nakal yang ingin menyerang padiku. Terlihat hari semakin petang, aku segera pulang. Begitu juga si Bagus. Ia menyiapkan kacang-kacangnya untuk dimasukkan ke dalam karung. Hatiku tergerak ingin membantu. ”Gus, aku bantu,ya?”. Bagus hanya tersenyum kecil. Aku mulai mengumpulkan kacang yang sudah diikat. Kami pulang bersama. Aku duduk diantara sekarung kacang. Akhirnya sampai ke rumah, aku langsung mandi di kali.
    Ketika malam Jumat ini  senyap-sepi, aku bergegas berdiri. Aku bersiap untuk berangkat ikut pengajian. Aku mengenakan kerudung dari selendang tipis berwarna oranye. Aku melihat pandangan ke cermin.”Natural....”.Aku lekas berangkat. Tak lupa aku meminta izin dan mengucap salam sama ibu.
    Malam itu, acara pengajian segera akan dimulai. Hatiku tersentak ketika aku melihat seseorang yang dipasar tadi.
”Masya Allah, itu kan orang yang menyapaku, dia juga ada disini?. Kenapa dia bisa berada disini?” tanyaku dalam hati
    Hatiku mulai tak tenang. Seusai pengajian, aku memberanikan diri menghampiri seseorang tersebut. Bibirku tak tinggal diam, ia mulai berkata. Tak kusangka seseorang itu adalah teman SMPku sendiri. Namanya Shinta. Aku merasa malu sekali ketika ia tahu namaku. Ia justru sangat mengenaliku. Aku tertunduk dan terdiam tak berkata lagi. Aku telah berkata kasar padanya dan menyangka yang tidak-tidak kepadanya. Sungguh ini sangat memalukan diriku.
”Maafkan aku, Shin. Bukan maksud diriku melukaimu.”
”Tak apalah. Aku yang salah Ris. Tak sepantasnya aku begini”.
”Kalau boleh tahu, kesalahan apa yang kamu perbuat?”.
”Maaf aku tidak bisa bercerita disini. Bawa aku ke tempatmu. Cuma dua hari saja. Jika tidak keberatan.”
”Tidak kok...malah aku senang.”
”Terima kasih”.
”Ya”
    Lalu, kuajak Shinta menginap di rumahku. Shinta bercerita tentang kehidupannya yang kelam. Aku mencoba menarik napas panjang dan tetap menyemangatinya. Hidup memang penuh perjuangan dan pengorbanan.
*
    Ketika pagi yang cerah, aku melihat Shinta telah rapi dan bersiap-siap. Aku langsung bangun dari tempat tidur.
”Mau kemana Shin?” tanyaku.
”Mau kerja”? pungkasnya.
    Ia langsung pamit. Aku mengangguk. Aku langsung menanyakan langsung pada ibu, tapi ibu juga tidak tahu. Aku penasaran jadinya.
    Hari ini cuacanya sangat cerah. Dari depan terdengar langkah kaki berdetak.
”Assalamu’alaikum..... ”
    Ibuku membalas salam tersebut. ”Siapa, Bu?” tanyaku. Shinta langsung masuk ke rumah dan menghampiriku. Aku terpesona kecantikan Shinta. Aura kecantikannya semakin terpancar dengan penampilannya yang anggun dan tertutup itu. Melihat penampilan Shinta aku teringat pada Icha.
”Kamu cocok sekali dengan pakaian seperti ini, Shin? Kenapa kamu tidak pakai yang begini saja terus?” tanyaku.
Dengan senyuman, Shinta menanggapi pertanyaan temannya.
”Aku belum siap lahir batin. Resikonya lumayan besar. Itu akan lebih sempurna jika dengan hati yang ikhlas. Sementara hatiku masih......Ah, kamu pasti tahu maksudku ”.
”Iya.... Tapi kan lebih cantik”.
”Boleh saja.... belum saatnya yang tepat sekarang. Aku belum siap.
    Aku mengangguk mengerti. Shinta bergegas ganti baju. Kami segera makan siang sambil bergurau. Ibuku juga kelihatan senang.
    Esok harinya, kami jalan-jalan keliling desa. Aku dan Shinta sungguh menikmati suasana desa tempat tinggalku. Kami merasa kecapaian, dan akhirnya kami segera singgah di kedai dekat pinggiran sekolah sambil makan gorengan. Walau agak sepi, kami sungguh merasa damai melihat pemandangan disekitarnya. Namun, suasana mulai berisik ketika bel pulang berdering. Anak sekolah pun keluar berhamburan sana-sini. Berdesakan sekali. Aku melihat itu dengan jelas. Ketika semua siswa pada keluar, aku melihat seorang cewek menunggu jemputan. Penampilannya tertutup dan sopan. Ketika jemputannya sudah tiba, seorang cewek tadi bermesraan naik motor.    
”Ets, Shan. Lihat! Gila tuh cewek, alim kok mesra abis di motor”. (aku meng-gelengkan kepala).
”Hem, itu biasa kok Ris. Dikota sudah banyak yang begituan. Nah, itu yang kutakutkan. Kita jadi omongan orang. Atas masjid bawa hotel. Dimana norma agamanya”.
”Ih, serem juga ya!!!! Sanggahku.
”Pulang saja yuk! Risih aku jadinya”
    Kami segera pulang ke rumah. Diperjalanan, aku tidak berhenti ngomong. Sesaat tiba di depan rumah, terlihat Bagus menawarkan kacang pada ibu. Aku segera menghampiri Bagus.
”Gus, apa tujuan orang berkerudung?”
Bagus terkejut mendengar pertanyaanku secara tiba-tiba. Ia menjawab agak gugup.
”Ya...., itukan menutup aurat.”
”Benar sih, tapi kalau bermesraan masih pakai kerudung. Apakah masih menutup aurat?”
”Aduh, gimana ya..yang pasti enggaklah. Malah ngumbar hasrat yang terselubung. Sudah ya..aku cabut dulu, nih masih banyak kacangku.”
“Huh, belum juga selesai, sudah mau pergi”.
    Bagus cepat-cepat segera pergi. Ia masih menjajakan kacangnya. Aku benar-benar bingung fenomena ini. Maklum, aku masih polos dan lugu. Teringat selain Icha, temanku, anak SMA yang aku lihat tadi menambah kegundahanku. Padahal, ia cukup cantik memakai kerudung, begitu juga aku. Tapi kenapa mereka merusak kecantikan itu dengan perilakunya yang salah.
    Kebingungan ini tetap berlarut-larut. Dua puluh empat jam aku termangu. Duduk diam tersipu sambil membunyikan radio. Setelah mendengar  curahan hati di radio, hatiku terpanggil untuk berkerudung. Memang sudah lama niatku mau berkerudung supaya menjadi anak solehah.
”Ternyata besar juga manfaat berkerudung” gumamku.
    Aku bergegas ke kamar mengambil kerudung lalu memakainya. Aku terpikat sendiri. Apalagi bulan depan sudah mau puasa. Pasti tambah barokah. Aku memperkenalkan pada Shinta.
”Shan, bagaimana? Cantik tidak?”
”Lumayan. Tapi apa kamu yakin mau berkerudung setiap saat.”
”Insya ALLAH. Hatiku terdorong kuat mau kesana”
“Syukurlah. Aku harap kamu bisa menjaga hati dan sikapmu yang ikhlas agar kamu bebas dari beban”.
 “Tentu. Aku akan menjaganya dengan baik”
    Mulai besok aku akan memakai kerudung dan pakaian tertutup. Shanti sangat mendukung, begitu juga dengan ibuku. Sayang, besok Shanti sudah pulang ke kota kembali. Padahal aku tetap dia ingin disini bersamaku kembali. Aku bersedih dalam kebahagiaan.
    Malam pun berlanjut. Suasana hening sekam bersemayam. Aku, Shanti serta ibu terlelap untuk menyambut pagi dengan siap.    
”Bangun, bangun, sudah subuh. Sholat!!!” (ibuku membangunkan kami).
“Huahh,,,heem…aku menguap lagi. Tak terasa sudah pagi. Aku dan Shinta bergegas siap-siap.
“Riska, Ibu, terima kasih ya atas kebaikan kalian. Aku harus pulang.”
”Ya, Shan, aku juga...Terima kasih arahanmu tentang diriku sehingga aku bisa lebih baik lagi. Aku harap dirimu tidak melupakan aku, begitu pula dirimu terhadapku”.
”Kamu sangat cantik dengan kerudung itu. Kamu harus ikhlas dalam setiap melakukan sesuatu. Ingat itu. Jangan terlalu hiraukan aku, aku senang dengan diriku seperti ini. Aku berangkat dulu. Semoga kita bisa bertemu dilain waktu. Terima kasih...”.
    Shanti telah pergi ke asalnya. Kerudung coklat yang kupakai ini adalah kenangan yang diberikan kepadaku. Dan aku bersama ibuku kembali. Memulai hidup berdua kembali. Aku adalah aku. Aku akan ikhlas melakukan sesuatu walau banyak rintangan yang berliku. Pilihan hati terutama bagi diriku, akan tetap ku-jalani dan kujaga dengan ketulusan dan keikhlasan hati.
        
***


   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Coment FB

Yang Populer